|
Melihat keindahan penampilan Roger Federer dalam Final ATP Master kemarin dimana saat itu dia berhasil mengalahkan David Ferrer, sungguh sepertinya kita tidak hanya melihat momen olah raga semata tetapi seolah melihat alunan karya seni yang keindahanya menyatu atau "manunggal" dalam bingkai sebuah kejadian olah raga Tenis. Ya Roger berhasil menyatukan dirinya dengan berbagai variasi tingkat keadaan bola menuju kreasi sebuah tujuan yaitu poin-poin kemenangan. Memang Roger adalah seorang Bintang. Saya teringat kembali apa yang dulu selalu diwejangkan oleh para guru, beliau-beliau selalu mengajak anak muridnya untuk meniti jalan mencoba meraih sebuah makna Bintang, jadilah yang terbaik. Untungnya meraih bintang ternyata tidak sesulit pengertian saat dulu. Kalau dulu saat semasa sekolah katakanlah menjadi bintang sering hanya diartikan sebagai kesuksesan menjadi bintang kelas atau bintang pergaulan di sekolah. Tapi semakin usia bertambah ternyata menjadi bintang mempunyai jalan yang sangat beragam dan sangat variatif. Sesederhana apapun jalan yang kita pilih dan yakini jika disertai fokus dan disiplin, serta kita berhasil menyatu dengannya maka kesempatan menjadi bintang adalah niscaya dan tidak rumit. Paling tidak bintang untuk diri sendiri. Bukankah hakikat bintang adalah menyinari? Dan bukantah paling tidak kita bisa menyinari jalan hidup kita sendiri? Bukankah setiap individu adalah pemimpin paling tidak untuk dirinya sendiri?Tidakkah ini sederhana?.
Dalam konsep yang lebih dalam menjadi seseorang disebut bintang adalah ketika berhasil masuk dalam zona gelombang penciptaan atau kreasi. Saat waktu menjadi seperti lembaran-lembaran kertas yang diisi oleh tulisan-tulisan kejadian yang bersifat konvergen, menuju satu titik yaitu niat atau tujuan awal yang dicetuskan Si Bintang. Kejadian hanya berjalan menuju pada titik wujud niat awal. Pada saat titik awal tersebut tercapai pada akhirnya maka keadaan awal dan akhir menjadi satu tidak bisa dipisahkan. Situasi ini diikuti dengan kondisi ketenangan luar biasa. Subhannallah. Patut disyukuri lagi bahwa kecenderungan dunia sekarang menggeser kearah lebih menghargai keberagaman dan tidak berbenturan dengan filosofi dasar bangsa indonesia yang menganut Bhineka Tunggal Ika. Kita bersama berjalan menuju masyarakat yang makin terbuka, lebih toleran, dan makin menghayati makna keanekaragaman. Tidak ada lagi seperti era akhir revolusi industri bahwa menjadi bintang seorang harus menjadi ras Aria menurut konsep Hitler. Atau seseorang harus menjadi marxist, kapitalist, sosialis, fundamenmentalist keyakinan tertentu dsb. Keanekaragaman akan mengarah menjadi hikmah bukan biang perpecahan. Semoga. Amin. Mengutip apa yang tertulis dalam cerpen Pramoedya Anantatoer bahwa memang hidup "Bukan Sebuah Pasar Malam" kita datang satu-satu dan pergi satu-satu. Membawa bekal hasil perjuangan semasa usia dan mempertangungjawabkan keyakinan di haribaan-Nya. Semoga tidaklah putus dan hilang asa. Terus pantang menyerah coba meraih, semesta bintang kita pribadi dengan kreasi dan budidaya diri sendiri. Semoga bintanglah kita semua pada akhirnya seserdehana atau sekecil apapun kita. Karna semestinya "Heaven is for everyone" (excerp from rock music album, Quen. Lagu terakhir dari almarhum Freddy Mercury). Dan bukankah Dia Sang Maha Adil ? Salam, Jarot Mursito |