dear Folks, Tadi pagi2 aku nonton tivi salah satu acara 'gosip selebriti', beritanya : Dini Aminarti (24 th), pemain sinetron dan iklan sudah putus pacaran sama pacarnya Fardan (18 th) menurut Fardan meskipun masih saling sayang, keputusan bersama ini demi Dini Aminarti ... Ternyata setelah itu ditampilkan wawancara dengan ibunya Dini, ibunya berujar, "sejak semula saya memang tidak setuju anak saya pacaran sama dia, setelah berdoa siang dan malam, bersyukur Dini sudah putus dengan Fardan. alasan saya tidak setuju, Usia Dini 6 tahun lebih tua dari Fardan dan yang terpenting Fardan masih kuliah dan belum berpenghasilan, sementara Dini adalah tulang punggung keluarga. Saya adalah ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan . . ." Lho kok . . .
Mmm . . . ada dua hal yang 'mengganggu' pikiranku : Yang pertama, Dini yang seleb dan balita sewaan yang suka berkeliaran di lampu merah digendong sm ibu 'boongan' kaya'nya beda2 tipis aja. sama-sama "dimanfaatkan" oleh ortunya untuk cari duit. Yang kedua, buat saya ini sangat menarik, kenapa sih mengukur prestasi seorang anak itu dari 'penghasilan' ? bukannya usia 18 tahun lazimnya masih kuliah dan belum bekerja kecuali kepepet , setuju2 banget ortu mengarahkan anaknya dalam berpacaran supaya nggak salah langkah, tapi kalo alasannya adalah prestasi dalam penghasilan uang, wah . . . Sesungguhnya, hidup kita ini sendiri adalah sebuah prestasi. Perjalanan hidup kita , setiap hari diisi oleh berbagai prestasi. Setiap gerak kita, setiap aktivitas kita adalah perjalanan prestasi. Proses itu sendiri adalah sebuah prestasi. Seperti teman saya yang harus berangkat setiap subuh dari Depok menuju Pluit, atau teman saya lainnya yang selalu menyempatkan untuk tersenyum kepada setiap orang, padahal dia orang yang sibuk luar biasa. Seperti sahabat saya yang selalu berusaha mengantarkan anaknya ke sekolah setiap hari, padahal setelah itu ia harus ngebut sekencang-kencangnya ke kantor agar tidak terlambat. Seperti pembantu yang berhasil menahan kejengkelannya setiap kali majikannya bersikap semau-maunya...hehehe...
Banyak sekali prestasi kita, yang barangkali merupakan hal BIASA bagi kita, tapi merupakan PRESTASI luar biasa bagi orang lain. Atau sebaliknya, hal yang biasa bagi orang lain, tapi begitu luar biasa bagi kita.
Ada baiknya kita buat daftar prestasi kita setiap hari. misalnya. Hari ini saya berhasil mengejar kereta api yang membawa saya ke kantor. Kemaren saya berhasil jalan kaki dari stasiun ke kantor dalam waktu kurang dari 15 menit. Saya berhasil menikmati setiap langkah dan setiap detik perjalanan saya sambil ngobrol dengan teman saya. Sore harinya pun saya berhasil jalan kaki lagi dan menikmati pemandangan alam sepanjang jalan Sudirman, dengan kedua mata terpentang dan telinga yang diisi dengan berbagai suara. Dan malam harinya saya berhasil tidur dengan lelap tanpa bantuan obat tidur, selain bantal yang empuk dan selimut yang lembut...waaaah...
Masih ada seratus...atau dua ratus..atau mungkin seribu prestasi lagi yang mungkin dapat kita miliki. Ada yang ditulis di atas selembar kertas. Ada yang berupa lukisan yang digantung di dinding. Ada yang berupa bantal yang menemani tidur. Ada yang berupa taplak di meja ruang tamu. Ada yang berupa sepiring kwetiau goreng spesial di hari libur. Ada yang berupa sepanci opor ayam yang berhasil kita masak setiap Hari Raya. Ada yang berupa dongeng sebelum tidur yang selalu kita karang setiap malam untuk me ninabobokan anak kita. Ada trik-trik yang berhasil kita lakukan untuk' menjinakkan' anggota keluarga di rumah . Bahkan ada yang tidak terucap dan tidak tertulis...karena hanya berupa doa dan harapan saya bagi kehidupan orang lain....
Alhamdulillah ... Sekarang coba buka perjalanan hidup kita semua. Coba catat semua prestasi yang telah kita capai selama ini.
Masih perlukah kita selembar kertas untuk sebuah pengakuan ? Masih perlukah kita sebentuk medali atau piala penghargaan untuk prestasi yang kita lakukan ?
Salam,
winda '71
|