|
Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang Ke-62, 17 Agustus 2007 Mengingat kata merdeka saya teringat kembali pada mata pelajaran sejarah yang diajarkan oleh ibu Sri Poerwani saat SMA dulu. Beliau bilang makna kata "Merdeka" adalah bebas dari segala bentuk penjajahan dan penindasan serta bebas dalam menentukan nasib sendiri berdasarkan keinginan luhur dan cita-cita seluruh masyarakat Indonesia. Sungguh indah sekali. Sesederhana itu lah garis besarnya. (Penulis :Terima kasih Ibu atas bimbingannya sejauh ini). Semakin tumbuh dewasa pemaknaan itu menjadi begitu beragam dan bahkan menjadi tidak sesederhana awalnya karena sudut pandang yang tumbuh dan berkembang. Apanya yang bisa dianggap sederhana, karena ternyata justru untuk mengisi kemerdekaan yang notabene adalah kebebasan itu ternyata tidak mudah. Ada banyak jalan yang diupayakan oleh para pendahulu kita. Ada cara menurut ide Soekarno, ada cara menurut Hatta, ada cara Syahrir, ada cara Amir Syarifudin, ada cara Tan Malaka, ada cara Alimin ada cara Muhammad Roem, ada cara Burhanuddin Harahap, ada cara Soeharto, serta cara selanjutnya sampai presiden kita sekarang. Sering beda faham dan cara mengisi kemerdekaan itu akhirnya dalam tataran politis berubah menjadi konflik terbuka dan saling mengeliminasi. Meski kalau ditanya kepada mereka semua, mereka akan menjawab bahwa itu untuk kebaikan dan tercapainya tujuan proklamasi kita. Saya tidak dalam posisi untuk menilai benar salah, hanya sekedar mengulang kembali bait-bait perjalan kita dimasa lalu. Yah itulah seperti yang tertulis dalam sejarah. Bukankah Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya? (quote dari : Abraham "Abe" Lincoln). Dan Bukantah Jangan pernah kita melupakan sejarah? (quote dari : Jasmerah, Pidato Ir. Soekarno).
Sebagai rakyat biasa bingung juga jika saya ditanya apa makna kemerdekaan dan bagaimana cara mengisinya ? Sering jawaban yang terbersit di otak adalah klise, ngambang, dan sok pahlawan...hehe. Tapi kebetulan kemarin saya teringat sebuah jawaban seorang anak kecil dari Vietnam, mungkin masih SD. Saat ditanya tentang "Bagaimanakah sikap kamu terhadap bangsa Amerika? yang mana kamu tahu pernah menorehkan kepedihan pada bangsa kamu?. Dengan otomatis dia menjawab, " Tuan kami diajari oleh orangtua dan guru kami untuk tidak mengenang masa lalu, kami sekarang adalah bangsa bebas dan kewajiban kami untuk membangunnya. Kami tidak dendam pada Bangsa Amerika malah kami dianjurkan untuk belajar dari mereka. Kami diajari untuk tidak hidup di masa lalu tapi merubah hidup kami di masa depan. Kalau sudah besar saya juga pengin belajar di Amerika". Saya tersentuh kalau mengingatnya. Jawaban itu sangat lugas dan jujur. Sangat menyentuh jiwa. Ada pepatah bilang : "Mengerti sisi baik dari orang baik adalah baik, tapi mengerti sisi baik dari orang yang tidak baik tidaklah bisa jika kita tidak cukup lebih baik". Bagi saya jawaban anak Vietnam ini bisa mewakilinya. Bahkan membikin malu hati sendiri jika semakin direnungkan mendalam. Hari ini diboelan Agoestoes, bertanggal Toejuh Belas, dengan ber-angka-tahun Doea Riboe Toejuh. Sebagaimanapun kamu ...Indonesiaku. Dari jauh...kamu tetaplah indah-asri nan berseri-seri Dengan segala apa lebih dan apa kurang-mu. Tak hilang segala kerinduanku sampai bahkan nanti kuberakhir mati. Pada detik-detak malam berembun sunyi. Terasa benar binar pesonamu semangkin terhadir.....pelan pekat menyeruak. Tuk-mengetuk kenang-ingatan akan kebebasan perlulah terus diisi.Di segala bidang dan segi. Pada akhirnya duh duhai aku-kamu, sekecil apapun aku-kamu, sesedikit apapun kebisaan aku-kamu. Semua adalah penuh sangat berarti bagi kelangsungan Iboe Pertiwi. Samar terdengar lantun syair, lagu Tanah Air .....(Tanah air kutidak kulupakan/Kan terkenang sepanjang hidupku/Biarpun hamba pergi jauh/Tidaklah hilang dari kalbu/Tanah kuyang kucintai/Engkau kuhargai...etc........., new presented by Coklat) yang menemani perenungan diri dalam bingkai waktu pencarian makna ......." Sebuah Kemerdekaan". Semoga tergapai akhirnya. Amin Salam....'Merdeka', Jarot Mursito. |