|
Sore-sore wingi akeh nyamuk-e Jarene reformasi, tapi kok akeh.....” nyamuk-e” (Kemarin sore banyak nyamuknya Katanya reformasi, tapi kok banyak...”nyamuknya”) Sekelompok anak muda dengan dandanan ngetren, dan berbau wangi cekikikan mendengar kidungan yang dilontarkan pemain ludruk legendaris, Cak Kartolo, dan mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman. Mereka kian ngakak ketika Cak Sapari, dan Ning Tini, pasangan tetap Cak Kartolo, muncul di panggung. Malam itu, Minggu (5/8), penonton ludruk tampak lain. Mayoritas terlihat necis dan harum. Sakia Sunaryo, 59 Tahun, pemimpin ludruk Irama Budaya, tak membayangkan penonton yang hadir di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta itu, akan datang menonton di tempat kelompoknya biasa manggung. Sehari-hari Irama Budaya bermain di sebuah gedung di Jalan Pulo Wonokromo, Surabaya. Gedungnya terbuat dari papan tripleks, dan anyaman bambu. Bangku penonton dari kayu yang memanjang. Lantai gedung masih berupa tanah. Gambar latar belakang yang kusam, menghiasi panggung mereka yang berukuran 6x4 meter persegi. Di samping kiri dan kanan panggung ada petak-petak kecil yang dipakai sebagai tempat tidur anggota ludruk, termasuk anak-anak dan keluarga mereka. Ada 50 orang anggota kelompok ini, tidak termasuk keluarganya. Tempat rias didesain di sisi kiri panggung, di atas tempat tidur di sebelah selokan. Irama Budaya kini boleh disebut satu-satunya kelompok ludruk yang masih berani mendirikan tobong (gedung pertujukan sekaligus tempat tinggal semi permanen).
Nah, penonton yang datang tiap hari rata-rata 10-15 orang saja. Harga tiketnya Rp 2.500. “Abot Mas (Berat, Mas),” kata Sakia, kepada Jurnal Nasional. Menurut waria ini, pada malam Minggu, kondisinya agak mendingan. Sekitar 100-150 orang memadati bangku penonton. Karena itu, tarif pun naik menjadi Rp 7.500. Kebanyakan mereka adalah penonton fanatik, yang rela naik angkutan umum. Tak heran jika kemudian tubuh mereka berkeringat setiba di ruang pertunjukkan. Aroma tubuh mereka berbaur dengan bau selokan di pinggir panggung. Sakia menuturkan, kelompoknya jelas tak bisa mengandalkan biaya hidup dari pertunjukkan tersebut. Banyak anggota kelompoknya yang harus menyambi kerja lain. Mulai tukang parkir, tukang las, tukang tambal ban dan lain-lain. Karena itu, dia menyambut baik ajakan Ikatan Alumni SMA 3 Malang dan Paguyuban Puspo Budoyo, untuk manggung di Jakarta. Sakia mengaku,”Ini pertama kali kami main di Jakarta.” Tak semua anggota Irama Budaya memainkan tokoh penting dalam lakon “Sawunggaling Wisuda” itu. Mereka harus berbagi peran dengan sejumlah tokoh dan selebritas yang ikut pentas. Selain Basofi, tokoh lain yang turut ngludruk adalah Sutan Remy Sjahdeini (Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia), Ray Sahetapy (aktor), Parni Hadi (Direktur Utama RRI), Djoko Moeljono (Mantan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan Dalam Negeri), dan Sony Djatmiko (Direktur Sea World Indonesia), serta Eko Dj (komedian). Remy Sjahdeini menjelaskan, ludruk hampir punah, karena kalah bersaing dengan hiburan di televisi. Belum lagi maraknya peredaran film dalam format cakram padat. Citra ludruk pun lebih terkenal sebagai hiburan masyarakat kelas bawah. Lantas Remy berteori, jika ludruk dimainkan kalangan atas, persepsi masyarakat terhadap ludruk menjadi naik. Tapi, kata dia,“Ini bukan teori.” Dia mendasarkan pada kesuksesan musik dangdut. Dulunya, musik ini memang banyak dikonsumsi masyarakat kelas bawah. Tapi kelasnya lalu naik, karena kalangan atas yang menyanyi, dan tampi di depan kalangan atas pula. “Saya yakin, hal ini juga berlaku untuk ludruk.” Setidaknya, untuk pertunjukkan Minggu malam itu, teorinya berlaku. Banyak tokoh atau pemain nonludruk yang memborong undangan, paling murah Rp 75 ribu dan termahal Rp 350 ribu, untuk dibagikan buat teman-temannya. Mereka ingin anak, keluarga, kerabat dan kenalannya ikut melihat dirinya tampil. Sekitar 600 orang menonton hingga lakon “Sawunggaling”, sebuah dongeng rakyat Jawa Timur, selesai. Miss Indonesia 2007, Kamidia Radisti, terselip di antara penonton. “Saya jadi ingin ikut main,” tuturnya. Sakia dan rekan-rekannya pun senang. Katanya,”Mugo-mugo ludruk ga matek (Mudah-mudahan tidak mati).” Thonthowi Dj ---- Boks ----- Terus Berkelit dari Ajal Ludruk adalah teater rakyat yang berasal dari kalangan jelata. Kesenian ini dipelopori Santik, petani dari Desa Ceweng, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, pada 1907. Bersama dua kawannya, Pono dan Amir, dia mengamen dari desa ke desa. Untuk menarik perhatian, Pono dirias seperti perempuan, tapi dengan mimik lucu, sehingga lebih dikenal dengan sebutan wong lorek (orang belang). Setelah itu, ludruk terus beradaptasi dengan zaman. Ludruk lantas berubah menjadi kesenian pentas di pesta rakyat, lalu menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan, alat propaganda PKI maupun militer, hingga bertahan di jalur komersial seperti saat ini. Teater rakyat ini pada umumnya memainkan cerita jagoan, kepahlawanan yang dibawakan dengan nyanyian atau banyolan. Sering pula cukilan kehidupan sehari-hari dilakonkan. Beberapa cerita ludruk yang terkenal adalah Pak Sakerah, Sarip Tambak Oso, dan Sawunggaling.
Seperti ditulis James L. Peacock, antropolog Universitas North Carolina, dalam bukunya “Ritus Modernisasi: Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyat Indonesia”, ludruk bergeser dari seni tradisi menuju modernisasi. Dia meneliti ludruk sepanjang 1962-1963. Tapi sejalan dengan zaman pula, ludruk terancam punah. Tanda-tanda ini sudah terlihat sejak akhir 1970-an. Majalah Tempo pernah mengabarkan, pada 1979 kelompok ludruk asal Jombang, Beringin Jaya, yang manggung di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, hanya ditonton 5 orang per harinya. Bahkan, di tanah kelahirannya, Jombang, ludruk tidak ditanggap lagi. Masyarakat yang mengadakan pesta sudah mulai lebih suka menanggap orkes dangdut. Almarhum Ayub Abdul Jalal, pelawak terkenal pada tahun itu, yang ngetop lewat film “Inem Pelayan Seksi”, prihatin dengan nasib ludruk. Dia ingin warga Jawa Timur juga mencari ludruk seperti mereka mencari Srimulat, kelompok lawak yang tengah jaya-jayanya saat itu, yang juga main di THR Surabaya.
Karena itu, di rumahnya, di Desa Karah, Surabaya, Jalal membentuk grup ludra, singkatan dari ludruk dan drama, bernama Cendaki. "Cendaki yang bermakna cendekia ini supaya memberi kesan modern pada ludruk kami," katanya saat itu. Jalal ingin meninggalkan segala sesuatu yang tradisional dari ludruk. Salah satunya adalah mengajak mahasiswa bermain, dan menghilangkan waria. Pendek kata, ludruknya Jalal bolehlah disebut ludruk gedongan. Jelas tidak semua sesepuh ludruk setuju. Apalagi waria adalah salah satu ikon ludruk. Kelompok Cendaki kini sudah tiada. Tapi beberapa gagasan Jalal diteruskan. Kampus-kampus beberapa tahun kemudian banyak mendirikan grup ludruk. Ludruk Institut Teknologi Bandung, malah sering ditunggu pementasannya. Tapi itu semua belum menolong ludruk. Jumlah kelompok ludruk terus menyusut. Pada 1970-an masih terdapat lebih dari 1.000 grup. Pada 1984 jumlahnya menjadi 800 grup. Sejak 2000, mungkin hanya puluhan saja kelompok yang bertahan. Apakah resep memainkan ludruk bersama tokoh dan pejabat yang kini dicoba akan menuai sukses? Masih perlu waktu pembuktian. Parni Hadi, Direktur Utama RRI yang turut bermain ludruk menyatakan, ada lima pilar agar pelestarian budaya, termasuk ludruk bisa terlaksana. Pilar-pilar itu adalah pemerintah dan negara yang mendukung melalui kebijakan, seniman yang berdedikasi, publik yang mengapresiasi, dunia usaha yang memodali, dan media yang memublikasikan. “Semuanya terkait dan penting.” Thonthowi Dj |