home


Survey
Anda tahu Ika Smari Agitma dari:
 
Kegiatan Akan Datang
Tidak ada Kegiatan dalam waktu dekat.
Lihat Kalendar Kegiatan
Home arrow Woro-Woro arrow Siaran Pers: Alumni SMA 3 Malang Bantu Ludruk Irama Budaya (Gelar Lakon “Sawunggaling Wisuda”)
Siaran Pers: Alumni SMA 3 Malang Bantu Ludruk Irama Budaya (Gelar Lakon “Sawunggaling Wisuda”)
Ditulis oleh Pudjiasmanto   

Ikatan Alumni SMA 3 Malang (Ikasmari Agitma) akan menggelar ludruk dengan lakon “Sawunggaling Wisuda”, pada 5 Agustus 2007 nanti di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pagelaran ini diadakan bekerja sama dengan Paguyuban Puspo Budoyo, dengan tujuan membantu membangkitkan budaya Ludruk umumnya, khususnya kelompok ludruk Irama Budaya Surabaya.

Ludruk Irama Budaya sampai sekarang masih bertahan, kendati gedung tempat mereka bermain terbuat dari papan, kayu tripleks, dan bilik anyaman bambu (ghedek). Tempat duduk untuk para penonton terbuat dari kayu memanjang sepanjang tiga meter. Lantainya masih asli dari tanah.

Tiap hari mereka tetap tampil dengan mematok harga tiket Rp. 2.500/orang. Rata-rata hanya 10-15 orang yang menonton. Pada akhir pekan, jumlah penonton agak meningkat, sehingga pengelola Irama Budaya menaikkan harga tiket menjadi Rp. 7.500,-. 

Namun pemasukan dari tiket tersebut jelas tidak mencukupi untuk menghidupi 50 orang pemain ludruk, termasuk pemain gamelan dan pengelola Ludruk Irama Budaya. Kondisi yang memprihatinkan ini bertolak belakang dengan prestasinya. Irama Budaya pernah mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah Jawa Timur sebagai kelompok ludruk terbaik di Jawa Timur. Tetapi sekarang tak ada yang mau memodali.

Ikasmari Agitma ingin sedikit banyak membantu ludruk tersebut, dengan memberi tempat bermain di Jakarta. Hasil dari pagelaran itu sebagian disumbangkan kepada Irama Budaya.

Dalam pementasan di Jakarta, sejumlah tokoh Jawa Timur akan memperkuat Irama Budaya. Mereka antara lain Hayono Isman (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga), Sutan Remy Sjahdeini (Ketua Dewan Supervisi Bank Indonesia), dan Basofi Sudirman (mantan Gubernur Jawa Timur). Para anggota Ikasmari Agitma punakan ikut meramaikan pementasan ini. Bintang ludruk  Kartolo juga akan memperkuat pementasan “Sawunggaling Wisuda” ini. Aktor Ray Sahetapy pun turut bermain.

Dalam konferensi pers sebelum pementasan yang diadakan pada Selasa, 31 Juli di Jakarta, Parni Hada menyatakan, pelestarian budaya bukanlah pengawetan. “Tapi kesinambungan eksistensi.”
Menurut dia, kesinambungan itu memerlukan regenerasi pemain, kreasi baru, dan kompetisi. Selain itu, kata dia, ada lima pilar agar pelestarian budaya bias terlaksana. Pilar-pilar itu adalah pemerintah dan Negara yang mendukung melalui kebijaka, seniman yang berdedikasi, publick yang menapresiasi, dunia usaha yang memodali, dan media yang mempublikasikan. “Semuanya terkait dan penting.”

Adapun Ray Sahetapy menyatakan, dia mau bergabung karena seniman ludruk dari Surabaya menginginkan dia bergabung. Ajakan itu disampaikan langsung oleh Basofi Sudirman. “Ini bagian dari bela budaya,” ucapnya.

Sawunggaling adalah tokoh di Jawa Timur yang anti-penjajahan Belanda. Dia adalah putra Adipati Jayengrono yang “tidak diakui”. Tapi, dia akhirnya memenangkan sayembara untuk menduduki kursi Adipati, menggantikan ayahnya, meskipun tak disukai Belanda. Lakon tersebut akan dipanggungkan pada :

Hari/tanggal : Minggu, 5 Agustus 2007 
Waktu: pk. 19.00 – selesai
Tempat: Graha Bhakti Budaya
   Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

 



< Sebelumnya   Selanjutnya >
 
CMS Setup Maintenance Administration and Visual Design by Inter-Ad World