home


Survey
Anda tahu Ika Smari Agitma dari:
 
Kegiatan Akan Datang
Tidak ada Kegiatan dalam waktu dekat.
Lihat Kalendar Kegiatan
Home arrow Rupa-Rupa arrow Mengkudu Sunan Drajad
Mengkudu Sunan Drajad
Ditulis oleh Thonthowi   
Seorang anggota polisi mendatangi Kiai Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Derajat. Polisi ini bukan datang karena pondok pesantren tertua yang masih berdiri ini tengah dirundung kasus terorisme. Dia datang bersama putrinya. "Pak Kiai, kulo badhe mondokno anak kulo ten mriki (Kiai saya ingin memondokkan putri saya di sini)," kata sang polisi memohon.

"Saged mawon. Napa alasane sampeyan milih nyekolahno nang pondok? (Bisa saja. Apa alasannya memilih menyekolahkan di pesantren?," ucap Kiai.

"Anak kulo niki nyandu narkoba (Putri saya kecanduan narkoba)."

"Lho, sakjane kan tugase polisi mbrantas narkoba (Bukannya tugas polisi untuk memberantas narkoba)."

"Lha nggih niku, mangkane kulo pondokaken, ben anak kulo sadar. (Makanya saya pondokkan di pesantren, biar anak saya sadar."

Percakapan  itu diceritakan Kiai Ghofur tatkala saya diajak seorang teman mengunjunginya di kamar sebuah hotel di Jakarta, beberapa hari lalu. "Begitulah Mas, pesantren masih sering dipandang sebagai prayuana, pusat rehabilitasi, atau pun penerima siswa dengan prestasi akademik yang rendah," kata Pak Kiai.

Tapi sebagai tempat pendidikan, Sang Kiai tak menampik anak didik bermasalah seperti putri polisi itu. Selain anak bermasalah, Pesantren Sunan Drajad tak jarang menerima siswa dari keluarga miskin. Pengangguran pun ditampung. "Di tempat saya ada ratusan insinyur, sarjana ekonomi, dan sarjana lainnya," ujar Kiai lulusan Pondok Pesantren Denanyar, Jombang Jawa Timur ini.

Para pengangguran itu memilih pondok pesantren sebagai tempat persembunyian. Daripada di rumah malu ditanya, sudah lulus kok tidak bekerja, lebih aman tinggal di pesantren. "Pokoke kulo diparingi nedha, ngerjakno napa mawon purun. (Pokoknya saya dikasih makan, mengerjakan apa saja saya mau)," ujar Kiai Ghofur menirukan ucapan salah satu di antara mereka.

Pengelola pesantren tak kehabisan akal. Yang arsitek dan diminta menggarap renovasi masjid dan bangunan pondok. Yang sarjana ekonomi diminta membantu pengelolaan keuangan pesantren. Nah, yang insinyur pertanian diminta membantu menggarap lahan pesantren. Hasil garapan lahan itulah untuk mencukupi kebutuhan para santri atau siswa yang kurang mampu, serta kebutuhan pesantren lainnya.

Bagi para insinyur pertanian yang lagi nyantrik, keahliannya kian dibutuhkan sejak Kiai Ghofur menjadi Ketua Umum Forum Komunikasi Pondok Pesantren Berbasis Agribisnis, anggota Dewan Penasihat Kelompok Usaha Bersama Agribisnis Mengkudu (KUBA), dan anggota Dewan Penasihat Kelompok Usaha Bersama Agribisnis Peternakan.

Jabatan itu disandang bukan tanpa alasan. Pengasuh pesantren yang berdiri sejak 1460-an itu berhasil mengembangkan tanaman mengkudu sebanyak 250 pohon di sekitar Pesantren. Buah ini kemudian diolah menjadi obat tradisional. Keberhasilan ini ditularkan kepada masyarakat, melalui ceramah dan khotbah. Masyarakat diajak memanfaatkan lahan kritis untuk ditanami mengkudu.

Peran pemimpin pondok pesantren ini terbukti efektif. Akhirnya, di Kabupaten Lamongan terbentuk enak kelompok tani yang menanami areal 110 hektar. Kelebihan hasil panen tak terelakkan. Kiai Ghofur lantas menggagas pendirian pabrik pengolahan sari buah mengkudu. Hasil pengolahan dijual dengan merk "Sunan", untuk pasar dalam negeri, dan "Jawa Noni", untuk penjualan ke Jepang dan Malaysia. Dari pabrik ini pula, pesantren ini berhasil memasok kebutuhan pabrik pakan ternak di Jawa Timur.

Untuk merawat tanamannya, Pesantren Sunan Drajad selalu menggunakan pupuk organik. Kepada masyarakat diajarkan untuk membuat pupuk organik sendiri dengan bahan yang berasal dari limbah mengkudu dan kotoran sapi, enceng gondok, sabut kelapa, fosfat dan sisa hasil tangkapan ikan.

"Saya lebih suka mengurusi pertanian semacam ini daripada ngurusi politik (praktis)," kata Kiai Ghofur.  Saya setuju. Kiai yang terjerembab dalam urusan politik, kebanyakan sering konflik. Karena asyik berpolitik dan berkonflik, pondok pesantren menjadi tak terurus. Yang rugi, tentu saja para santri dan masyarakat.

Ah, kenapa sih para politikus selalu ingin menggeret kiai ke kancah politik praktis.

Thonthowi Dj


< Sebelumnya   Selanjutnya >
 
CMS Setup Maintenance Administration and Visual Design by Inter-Ad World