|
Kursus Kompos PEMBELI RELA "INDEN" BERMINGGU-MINGGU Sumber: Tabloid Nova Banyak yang merasa mengelola sampah itu susah. Belajarlah di Kebun Karinda. Dari sampah rumah diolah menjadi kompos. Praktis dan tak menebar bau. Pagi menjelang siang. Suasana di Kompleks perumahan Karang Tengah Indah, Jaksel begitu lengang. Hanya satu dua mobil di melintas di jalan yang "dipayungi " pohonan nan lebat. Di pembatas jalan, tumbuh subur bunga Canna dengan aneka warna. Kesibukan justru terlihat di salah satu sudut di Blok C-2, tepatnya di sebuah tanah kosong seluas sekitar 300 meter persegi. Tiga orang pria tampak menyiapkan sesuatu. Ada dua gunungan sampah kering dan basah dedaunan terhampar di atas terpal plastik warna biru. Di sisi "gunung" sampah itu berderet aneka ragam kotak setinggi satu meter dari yang buat dari bambu, kayu, susunan paving block dan sebagainya. Beberapa alat pertanian, mulai dari cangkul, gembor, dan sebagainya berserak di sana-sini. Salah satu dari tiga pria yang sibuk itu adalah Djamaludin Suryohadikusumo. Anda merasa pernah mendengar namanya? Dialah mantan Menteri Kehutanan 1993 -1998. Sementara dua pria lainnya adalah Hendi dan Yanto, asistennya. Setelah semua persiapan beres, Djamaludin yang pagi itu mengenakan celana pendek dan bersepatu olahraga buru-buru pulang ke rumahnya yang berada di seberang jalan. Sedang dua asisten Djamaludin usai menuntaskan pekerjaan kebun langsung menyiapkan alat-alat kantor. Dengan cekatan dua pria itu memasang kabel-kabel proyektor dan laptop keluaran terbaru. Perangkat sound mini pun selesai dicoba. Persiapan ini untuk menyambut belasan tamu yang hari itu, Rabu, 10 Januari 2006 datang untuk pelatihan pembuatan kompos di Kebun Karinda (Karang Tengah Indah). Kegiatan ini memang rutin digelar di tempat itu, minimal seminggu dua kali.
BERAWAL DARI TERAS RUMAH Kebun Karinda yang awalnya merupakan kegiatan Komite Lingkungan di wilayah tersebut kini menjadi pusat pelatihan dan pembuatan kompos, baik kompos berbahan sampah dedaunan maupun sampah dari dapur. "Awalnya pelatihan ini dilakukan di rumah saya," kata Sri Murniati Djamaludin, istri Djamaludin menimpali sang suami. Suami istri ini minimal seminggu dua kali menjadi instruktur pembuatan kompos. Rupanya pelatihan yang mulanya dilakukan di teras ini juga diminati peserta dari luar kompleks. "Akhirnya ada yang menawarkan lahan untuk ditempati. Alhamdulillah, dengan lahan ini kegiatan kami makin berkembang," jelas Ny. Niniek, panggilan Sri Murniati yang mulai menerima murid dari luar kompleks sejak setahun lalu. "Sekarang yang sudah ikut kursus seribu orang lebih," akunya bangga. Dalam workshop gratis selama sekitar 2-3 jam ini peserta akan diajari cara membuat kompos, baik dari sampah halaman (daun kering dan daun hijau) atau kompos limbah dapur (potongan sayur-mayur, kulit pisang, rambutan, dan sebagainya). "Membuat kompos dari sampah halaman sebaiknya dalam volume besar," jelas nenek 4 cucu ini. Karena volumenya besar, perlu wadah khusus yang tingginya minimal 1 meter. "Ini berdasarkan pengalaman saja. Kalau tingginya kurang dari itu, bahan-bahan agak susah terurai," sela Djamaludin yang setelah pensiun aktif di 6 lembaga yang peduli lingkungan. Ada 4 macam meterial wadah yang sudah dicoba Djamaludin. Dari bambu, kayu, susunan paving block, dan bata. "Jadi masyarakat bisa memilih yang paling cocok." Sementara pembuatan kompos dari limbah dapur, menurut Niniek sangat praktis dan bisa dilakukan siapa saja. "Yang penting, sebelum memulai semua anggota keluarga membuat komitmen dulu. Semua harus dilibatkan mulai dari anak, ayah, ibu, sampai pembantu."Yang tak kalah penting, lanjut Niniek, keluarga juga harus memisahkan sampah dapur menjadi 2 bagian sampah organik dan anorganik. "Sampah yang bisa dipakai adalah sampah organik seperti potongan-potongan sayur yang tak layak dimasak, kulit buah yang lunak dan mudah hancur dan sebagainya," papar Niniek. Sebelum membuat kompos dari sampah dapur, disiapkan dulu wadahnya. Yang paling praktis adalah keranjang pakaian kotor (laundry basket) yang alasnya dilubangi 6 buah. Di bagian bawah dan atasnya "diselimuti" bantalan karung goni yang diisi sekam. "sampahnya hangat tapi tetap ada sirkulasi udara." Di dua sisi wadah tersebut juga dilapisi kardus. Setelah itu baru diisi kompos atau starter 1/3 dari wadah tersebut. Potongan bahan kompos dari dapur itu lalu dibenamkan ke dalam kompos agar proses penguraian terjadi. "Lakukan kegiatan itu setiap hari. Proses pengomposan terjadi bila ada proses pemanasan dalam wadah tersebut," tandas wanita lulusan Fakultas Farmasi UGM ini. Setelah wadah penuh, tunggu sampai 40 hari. "Kompos pun siap dipanen. Ciri-cirinya, warna kompos hitam atau kecokelatan dan tak terlihat lagi bahan aslinya, tak berbau. Sebelum digunakan kompos diayak dulu. Hasil ayakan bisa untuk kompos dan yang kasar bisa digunakan untuk starter." Untuk menguji apakah kualitas kompos sangat gampang. "Masukkan saja ke air. Kompos yang baik, semua akan tenggelam dan air di atasnya jernih. Jika masih ada yang yang mengambang, berarti proses pengomposan belum selesai," jelas Niniek yang berharap sepulang dari pelatihan "murid-muridnya" mau mempraktikkan ilmunya. "Untuk memacu mereka, beberapa setelah pelatihan saya sering telepon mereka. Sekadar bertanya apakah sudah mencoba atau belum. Kalau sudah mencoba apakah ada kendala atau tidak." Ada kemudahan proses pembuatan kompos yang diajarkan pasangan ini. Mereka tak pernah mematok perbandingan bahan (sampah kering dan basah) kompos secara pasti. "Tergantung bahan yang tersedia saja. Lebih banyak daun hijaunya bisa, begitu juga sebaliknya." Pasangan ini juga selalu memperlakukan kompos-kompos selayaknya manusia. Ini tak hanya tercermin dari istilah-istilah yang sering diucapkan saat pelatihan seperti, "menyelimuti" (menutup) sampah, "memberi makan" mikroba untuk mengganti menyiram dengan air dan sebagainya. "Bahkan Bapak sehari bisa menengok kompos bisa sampai tiga kali, lebih sering dibanding nengok cucu," sambung Niniek sambil terkekeh. Tak heran, Rano Karno, salah satu warga Karang Tengah Indah yang kerap datang ke pelatihan menyebut kompos produksi Karinda adalah kompos "kasih sayang". "Karena dibuat berdasarkan kasih sayang. Bukan dengan hitungan yang rumit dan jelimet. Makanya produksi kompos Karinda selalu laris-manis. Bahkan belum jadi pun sudah dipesan orang," jelas Rano. INGIN PUNYA JEJARING LUAS Kesibukan pasangan suami-istri menyebarkan ilmu membuat kompos semata-mata karena keprihatinan terhadap masalah sampah yang selalu menjadi problem di kota-kota besar. "Sampah sering menjadi penyebab berbagai masalah seperti banjir, sarang penyakit, bahkan pencemaran. Kami tergerak dengan program ini karena sama-sama peduli lingkungan," kata Niniek yang sebelumnya berkarier di Departeman Kesehatan. Awalnya kegiatan ini memang dilakukan Niniek dan tetangganya yang tergabung dalam Komite Lingkungan perumahan tempat ia tinggal. Kegiatan mereka makin maju setelah Djamaludin ikut membantu. Peran pria yang murah senyum ini lebih banyak ke pengembangan Kebun Karinda. "Ini, kan, lembaga nirlaba. Kami, kan, tak memungut biaya peserta kursus. Meski demikian, program ini jangan sampai membebani perorangan atau warga," kata Djamaludin. Untuk mencari pemasukan, usai pelatihan pihaknya menjajakan aneka produk kebun Karinda, mulai dari kompos, bibit, sayur, dan tanaman. Karena niatnya tak mencari untung, harga yang ditawarkan tergolong murah. Misalkan kompos yang di luar dijual Rp 5 ribu, di Karinda hanya Rp 2.500. Bibit sayur, bunga atau tanaman obat sebungkus hanya Rp 1.000. Paling mahal cabai korea berbuah lebat dilepas Rp 20 ribu. Hanya saja, dagangan itu tidak setiap saat tersedia. "Pemasukan itu sebagian besar untuk honor para asisten, sisanya untuk mengembangkan Karinda," kata Djamaludin. Dengan "murid" dari berbagai wilayah, pasangan ini berharap punya jejaring yang luas. "Setelah semuanya siap kami punya cita-cita membentuk organisasi masyarakat peduli sampah. Jadi penanganan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tak menimbulkan masalah, malah bisa mendatangkan berkah," tandas Djamaludin. ***
|